jarak....
lagi lagi lagi dan lagi terngiang-ngiang seakan menghukumku dan memaksaku untuk memupuk rindu tiap angin malam dan terik siang menyerang,
dentang detik jarum jamku pun terasa pilu mungkin mereka mencoba membuatku bergoyang menikmati gelap terangnya hari,
jarak...
bagaimana bisa aku merindu lagi? tumpukan rinduku sudah menggunung lahanku pun telah penuh,
sementara itu aku tak tahu lahannya sama penuhnya denganku atau mungkin punyanya tidak sebesar punyaku,
jangan paksa aku bermain dengan bayanganku,
aku muak bertanya jawab sendiri,
aku muak memberi tahu siang bahwa gelap selalu mendatangkan bulan,
jarak....
ku ambil atlas kebanggaanku, kupandangi lalu kucoba bergurau dengan mengukur cintaku ruas demi ruas jemariku, lalu ku lipat hingga kegundahan ini sirna,
belum, aku belum puas
aku harus bersikap egois memaksanya untuk hadir, disini, mengukur atlas bersama, iya...aku butuh jemarinya, membantuku melipatnya, bantu aku untuk mencela takdir kita,
jarak...
ajarkan aku cara memupuk percaya bahwa disana ia selalu berusaha mengkerutkan curigaku,
ajarkan aku cara menyakinkan aku tidak sia2 berdoa untuknya, untuk kita,
ajarkan dia bagaimana memilihku di setiap persimpangan perjalanannya,
ajarkan dia mengerti perasaanku atas bentangan ini,
ajarkan kita agar tahu malu pada Tuhan yang memperhatikan ciptaannya yang sedang berusaha, bersama-sama....
beri tahu Tuhan, kita ini nyata...
for dearest, bip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar