Sabtu, 25 April 2015

Pemanah handal dari planet matahari

tanpa diberitahupun aku tahu...
oh tentu saja satu hal spesial yang bisa kulakukan, membuatmu diam, tak bermaksud menyakiti seonggok hati yang termenung menatap layar berisi celotehanmu pun gagal. Mungkin diam bisa membekukan suasana yang kau simpan jauh dari pelupuk mataku, membuatku sering berkedip atau membuat trik kabut hingga hanya kau yang bisa ku lihat. Ah syang, itu tingkah klasik. Tunggu...tapi aku menikmatinya karena kamu, iya kamu.

Sungguh ini terasa sesak, bagai menghirup udara dingin, astaga jangan berbicara dingin kali ini, sungguh aku benci dingin aku benci sesuatu yang membuat kuku jemariku berwarna ungu pucat. Aku sadar aku berbohong menikmati hal aneh ini, jatuh cinta dengan alien dari planet matahari itu membuat pembenci suhu dingin sepertiku terlena. Sungguh memikat, bisa kalian rasakan, rasanya seperti pemabuk menenggak sebotol alkoholnya, terus dan terus hingga habis dan membeli kembali botol selanjutnya.

Sejak awal perasaan sialan ini muncul, aku tak bodoh menyadari banyak hal ganjil diantara aku dan makhluk matahari sepertimu. Mau bagaimana lagi, mencintaimu seperti menyukai api pada ujung lilin. Kutahu ia akan padam, sumbu api yang tak panjang membuat durasi sumber panasku akan hilang. Iya, dan akhirnya hilang entah berbohong pernah ada atau berpaling menghindariku.
Bodoooooh, kata yang tepat memanah tepat di dadaku.
Membiarkan kamu lolos menanamkan benih rindu, mungkin kesalahan. Iseng atau bersungguh? akhirnya kutau jawabannya. Tau seperti ini aku tak akan membiarkannya tumbuh lebat dan liar seperti sekarang, tumbuh hingga menembus ubun-ubun kepalaku.

Benarkah aku jatuh cinta diam-diam? jelas benar! dalam diam aku berkata ini cinta dan dalam sujudpun diam-diam ku bertanya apakan ini cinta.
Oh Tuhan mengapa baru sadar saat menulis blog judul ini, jelas sudah tanpa bersuara aku meyakini ini cinta? tanpa berbuat apa-apa aku menanamkan benih rindu pada orang seperti dia hanya dengan menatap ponsel dan layar laptopku? bukankah menggelikan?. Selama ini aku sibuk memperhatikan apa yang membuat rindu ini tak berujung melalui media sosial, sibuk membuat khayalan saat kami dipertemukan saat jemari kami bersatu, dan terlalu sibuk menyelipkan namanya setelah nama kedua orang tuaku saat sehabis solat fardhu. ah sudahlah toh Tuhan sudah memberitahuku secara perlahan, tapi yaaa salahku juga tak menggubrisNya, percaya dengan kamu, percaya pada sumber panas favoritku.

Baru saja aku melakukan hal cemen, menyeka bulir-bulir yang menggenang di sudut mataku, yaaa cuma bermaksud menjernihkan mata saja karena menatap layar laptopku terlalu lama itu saja.
Apa?
Hal itu sama saja dengan Nangis?
Ah yang benar saja, aku tak mendeskripsikan seperti itu!
Sial, aku baru saja mengetiknya, baiklah aku bukan pembual yang handal sepertimu !
Andai saja kita bertemu bukan melalui dunia virtual, pasti aku tahu seperti apa pandanganmu terhadapku tanpa kau berkata sedikitpun. Bagaimana? sungguh kau lupa apa hebatnya indera mata yang di beri Tuhan pada umatnya, mata dapat berbicara lebih bayak dari mulut apalagi jemarimu yang pandai mengetik bualan.

Kulihat gambar wanita itu. hal pertama yang muncul di pikiranku adalah ''subhanallah cantik, dan ia pintar bermake up, namun sayang tak berjilbab" jika ia sainganku sungguh aku bukan apa-apa. Bak model majalah disandingkan dengan wanita seperti pedagang gado-gado berjilbab sepertiku, sungguh bukan tandingannya dalam segi rupa. Bukan hanya kali ini aku melihat wanita lalu lalang menjadi sainganku lantas mengapa masih terasa sakit?. Kenapa harus membenci dia oh maksudku mereka?, toh yang seharusnya aku benci itu kamu, iya kamu yang selalu bertingkah cuma ada aku, apakah kau melakukan hal yang serupa kepada mereka?
Ah sudahlah, orang sepertimu sudah kuragukan sejak awal perkenalan kita. Aku meragukanmu melebihi apapun dan hebatnya aku percaya kamu hingga sekarang. Dan selalu berharap kamu menyalahkan dugaanku saat ini, kumohon jangan benarkan hal ini, karena sulit sekali untuk percaya denganmu tidakkah kau melihat usahaku meyakinkan diriku sendiri bahwa kau bukan orang sejahat itu.
Masih saja bodoh?
apa harus aku menghunguskan panah pada si pemanah dari planet matahari itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar