Dia yang aku tunggu hingga kini tak kudapati kabar yang bisa menenangkan hatiku saat ini. Aku memang bukan pemendam rindu yang handal seperti dia, oh mungkin hanya aku saja yang merindu sendiri disini.
Sosok pria pembenci makanan gudeg itu memang masi sebuah sketsa abu-abu hingga kini. Seharusnya setengah tahun setelah masa perkenalan dunia maya kita, aku bisa mengenalnya lebih dari apa yang aku tau saat ini Seperti apa dia dengan sifat baik buruknya, seperti apa teman-temannya, lingkungannya, keluarganya, apa yang dia suka, apa yang ia benci, dan sampai-sampai seperti apa dia di masa lalunya. Semua itu masih jadi daya tarikku untuk selalu ingin lebih mengenalnya hingga kini. Apakah ia merasakan dan menanyakan hal sama seperti denganku?
Detik demi detik kutahan pertanyaan-pertanyaan itu kepadanya, namun jika kutanyakan itu semua tidakkah aku terlihat sebagai wanita berumur kepala dua yang terlalu ingin tahu urusan dan pribadi orang lain. Ya Allah, rasanya seperti bom rindu yang menghantam dadaku di mendung pagi ini. Pesan-pesan singkat dan sapaku di 3 hari yang lalu pun masi belum dibaca oleh pria yang berjarak + 507km dariku. Mungkin saja ia lebih nyaman bila tak ada aku yang menyelip diantara kegiatan padatnya, atau mungkin saja bukan namaku yang ia inginkan untuk di selipkan dalam kesehariannya.
Ah betapa kacau kabut pagi ini, andai saja si kabut dapat ku sentuh tanpa kuraba, akan kudaratkan sentuhan pedih di pipi kirinya dan kubisikkan kata halus mendekati telinganya "aku merindumu".
*bip.listen this one :)
hi katatera :)
BalasHapus